Media Challenge BYD M6 DM: 150 Km dari Semarang ke Kaki Gunung Merbabu, Seirit Apa Teknologi Dual Mode?
Pabrikan asal Tiongkok, BYD, tampaknya benar-benar percaya diri dengan teknologi Dual Mode (DM) miliknya. Setelah menggelar pengujian di Jakarta dan Medan, kini giliran Jawa Tengah yang menjadi arena pembuktian. Menariknya, kali ini bukan sekadar test drive biasa, melainkan sebuah Media Challenge yang mengajak para jurnalis menguji langsung efisiensi BYD M6 DM di kondisi jalan sebenarnya.
Rute yang disiapkan pun bukan kaleng-kaleng. Start dari Kota Semarang, rombongan bergerak menuju Salatiga, melewati kawasan Bawen hingga kaki Gunung Merbabu, kemudian kembali lagi ke Semarang. Total perjalanan sekitar 150 kilometer dengan karakter jalan yang lengkap. Mulai kemacetan kota, jalan tol, tanjakan panjang, tikungan pegunungan, hingga jalan menurun.
Nah... justru di sinilah menariknya.
Jalan Kota Sampai Pegunungan, Semua Dilewati
Kalau biasanya pabrikan memilih rute yang "aman", BYD justru memilih jalur yang cukup mewakili penggunaan masyarakat Jawa Tengah sehari-hari.
Bayangkan saja.
Pagi berkutat dengan lalu lintas Kota Semarang.
Siang meluncur lewat Tol Semarang-Solo.
Lalu mulai mendaki menuju kawasan wisata Merbabu yang terkenal memiliki tanjakan cukup panjang.
Medan seperti inilah yang menjadi tempat ideal untuk melihat bagaimana sistem Dual Mode bekerja.
Di jalan perkotaan, mobil lebih sering bergerak menggunakan tenaga listrik. Kabin terasa senyap, akselerasi instan, dan nyaris tanpa suara mesin.
Begitu memasuki tanjakan atau membutuhkan tenaga lebih besar, mesin bensin langsung ikut membantu motor listrik secara otomatis.
Yang menarik, perpindahan tersebut hampir tidak terasa. Pengemudi cukup fokus mengemudi tanpa harus memikirkan kapan mesin bekerja atau kapan motor listrik mengambil alih.
Bukan Sekadar Hybrid Biasa
BYD menyebut teknologi ini sebagai electric-first hybrid.
Artinya, motor listrik tetap menjadi sumber tenaga utama, sedangkan mesin bensin hanya bekerja ketika memang dibutuhkan.
Konsep ini berbeda dengan hybrid konvensional yang lebih banyak mengandalkan mesin bensin.
Hasilnya?
Karakter berkendaranya terasa lebih mirip mobil listrik.
Respons gas spontan.
Akselerasi halus.
Minim getaran.
Dan kabin tetap tenang meski kendaraan dipacu di jalan tol.
Tanjakan Merbabu Jadi Arena Pembuktian
Salah satu titik yang cukup menarik adalah ketika rombongan mulai memasuki jalur menuju kaki Gunung Merbabu.
Di sinilah motor listrik menunjukkan keunggulannya.
Torsi instan membuat mobil terasa ringan saat menanjak.
Tidak ada gejala ngempos seperti yang sering ditemui pada mobil bermesin konvensional berkapasitas kecil.
Ketika dibutuhkan tenaga tambahan, mesin bensin ikut bekerja secara halus tanpa mengganggu kenyamanan berkendara.
Kombinasi keduanya membuat perjalanan tetap nyaman meski melewati elevasi yang cukup tinggi.
Adu Irit Antar Media
Yang membuat acara ini semakin seru adalah adanya Media Challenge.
Setiap peserta berlomba mencatat angka efisiensi terbaik.
Strateginya tentu berbeda-beda.
Ada yang memilih akselerasi super halus.
Ada yang memanfaatkan regenerative braking semaksimal mungkin.
Ada pula yang menjaga putaran motor listrik tetap dominan selama perjalanan.
Semua dilakukan untuk memperoleh angka konsumsi energi terbaik.
Dari sinilah peserta bisa merasakan bahwa mobil Plug-in Hybrid bukan sekadar soal spesifikasi, tetapi juga soal bagaimana pengemudi memanfaatkan teknologi yang tersedia.
Filosofi G.A.S.S.
BYD juga memperkenalkan filosofi G.A.S.S. sebagai identitas teknologi Dual Mode.
Gesit, karena motor listrik menghasilkan torsi instan sehingga akselerasi terasa responsif.
Andal, karena sistem mampu beradaptasi di berbagai kondisi jalan, mulai dari perkotaan hingga pegunungan.
Senyap, berkat dominasi motor listrik yang membuat kabin minim suara dan getaran.
Dan terakhir Super Irit.
Nah, bagian terakhir ini yang cukup menarik.
BYD mengklaim konsumsi bahan bakar teknologi Dual Mode bisa mencapai 65 km/liter dalam pengujian standar.
Bahkan pada beberapa Media Challenge sebelumnya, peserta berhasil mencatat angka yang lebih tinggi, tergantung kondisi jalan dan gaya berkendara.
Cocok Buat yang Masih Ragu Beralih ke EV
Tidak sedikit masyarakat yang sebenarnya ingin mencoba kendaraan listrik, tetapi masih khawatir soal charging station ketika bepergian jauh.
Nah, di sinilah posisi BYD M6 DM.
Mobil ini tetap bisa digunakan layaknya mobil listrik untuk aktivitas harian, tetapi tetap memiliki mesin bensin sebagai "backup" ketika baterai mulai menipis atau perjalanan semakin jauh.
Praktis tanpa drama mencari charger di tengah perjalanan.
Kesimpulan
Setelah melihat langsung bagaimana BYD memilih rute Semarang hingga kaki Gunung Merbabu, cukup jelas bahwa mereka ingin menunjukkan satu hal.
Teknologi Dual Mode bukan hanya cocok digunakan di jalan datar perkotaan.
Justru saat menghadapi kombinasi jalan tol, tanjakan, hingga kemacetan khas Indonesia, sistem ini mampu bekerja sesuai karakter medan yang dilewati.
Bagi konsumen yang belum siap beralih sepenuhnya ke mobil listrik, BYD M6 DM bisa menjadi alternatif menarik. Sensasi berkendaranya tetap menyerupai EV, tetapi masih menawarkan fleksibilitas mesin bensin ketika dibutuhkan.
Dan lewat Media Challenge ini, BYD seolah ingin mengatakan bahwa klaim efisiensi bukan hanya angka di brosur, melainkan sesuatu yang bisa dibuktikan langsung di jalan raya.

Komentar
Posting Komentar